Dewasa ini perkembangan teknologi komunikasi menjadi semakin pesat.
Evolusi teknologi komunikasi menurut Everett M. Rogers (1986) terbagi menjadi
empat era. Dimulai dari writing era, dimana orang berkomunikasi hanya
lewat tulisan, yang kemudian berkembang hingga mampu menghasilkan mesin cetak
pada printing era. Era selanjutnya adalah telecomunication era,
dan yang terakhir yakni interactive communication atau komunikasi interaktif.
Pada era komunikasi interaktif inilah kita saat ini tinggal, yakni ketika
manusia hidup berdampingan dengan teknologi.
Perkembangan teknologi terjadi karena pada hakikatnya manusia
memiliki sifat yang tidak pernah merasa puas akan apa yang diperolehnya. Kehadiran
teknologi media baru menawarkan berbagai macam perangkat yang memberikan kemudahan
bagi para penggunanya. Contohnya dalam berkomunikasi, zaman dulu orang harus
menunggu hingga berhari-hari lamanya hanya untuk menerima pesan lewat sepucuk
surat. Sedangkan saat ini, kita hanya perlu menekan tombol send pada
layar telepon genggam kita dan, voila!
Pesan yang kita kirimkan akan diterima seketika itu juga dalam hitungan detik. Dengan adanya teknologi media baru ini pesan dengan mudah bisa kita terima atau kita berikan walaupun dengan jarak jauh sekalipun.
Pesan yang kita kirimkan akan diterima seketika itu juga dalam hitungan detik. Dengan adanya teknologi media baru ini pesan dengan mudah bisa kita terima atau kita berikan walaupun dengan jarak jauh sekalipun.
Karakteristik yang melekat pada ‘new media’ adalah pertama-tama,
konsep “newness” atau kebaruan adalah gagasan relatif yang berkenaan
dengan waktu dan tempat. Apa yang baru saat ini, esok akan menjadi sesuatu yang
kuno, dan apa yang baru dalam suatu budaya, mungkin tidak diketahui oleh budaya
lain. Media baru adalah fenomena konstruksi sosial dan sering menyimpang secara
substansial dari maksud perancang aslinya. Karakteristik yang melekat pada
media baru antara lain: adanya transformasi dalam cara-cara individu saat
menggunakan media untuk menentukan tempat dan fungsi-fungsi media ini dalam
kehidupan mereka sehari-hari; media baru melibatkan desentralisasi saluran
untuk distribusi pesan; peningkatan kapasitas yang tersedia untuk transfer
pesan berkat satelit, jaringan kabel dan komputer; peningkatan pilihan yang
tersedia untuk penonton untuk terlibat dalam proses komunikasi, seringkali
melibatkan bentuk komunikasi yang interaktif; peningkatan tingkat fleksibilitas
untuk menentukan bentuk dan isi melalui digitalisasi pesan. Digitalisasi disini
berarti bahwa isi dari satu medium dapat ditukarkan dengan yang lain.
Segala perkembangan yang ada di dunia ini tentu memiliki dampak. Begitu
juga dengan kehadiran teknologi yang memberikan berbagai dampak, baik itu
positif maupun negatif yang dapat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari. Dampak positifnya antara lain: kehadiran teknologi baru akan
menghapus ketidaksetaraan dan kejahatan dalam masyarakat; pendidikan akan
meningkat; warga menjadi aktif dalam perdagangan dengan adanya kepemimpinan
ekonomi baru yang lebih berkembang; nilai-nilai tradisional komunitas yang
memudar dapat diperoleh kembali melalui komunikasi via internet; serta
memberikan kemudahan-kemudahan lainnya yang tidak dapat kita temukan di media
konvensional. Sedangkan dampak negatifnya antara lain: teknologi baru seperti
televisi ditakutkan akan dijadikan sebagai alat potensial untuk propaganda
politik; merusak struktur sosial; merusak bentuk atau deformasi pikiran muda; menurunkan
nilai-nilai warisan budaya; menimbulkan polusi informasi akibat dari persebaran
informasi di media; merebaknya kejahatan teknologi atau ‘cybercrime’; serta
timbulnya sikap komsumtif.
Perkembangan teknologi atau media baru semakin pesat dan menawarkan
fitur-fitur yang semakin canggih, memberikan berbagai kemudahan bagi para
pengguna. Seperti internet, yang kini telah menjadi salah satu kebutuhan
masyarakat sehari-hari. Dari internet ini terciptalah sebuah masyarakat yang
dinamakan virtual community.
Komunitas Virtual dan Pergeseran Identitas
Terciptanya komunitas virtual merupakan salah satu dampak dari
adanya media (teknologi) baru, seperti berbagai perangkat elektronik dan
internet. Istilah virtual community dikenalkan pertama kali oleh
Rheingold dalam bukunya The Virtual Community Homesteading on the Electronic
Frontier (2000). Dalam bukunya, ia menjelaskan tentang kehidupan manusia di
dunia maya. Orang-orang yang tergabung dalam dunia maya ini dinamakan komunitas
virtual (virtual community). Komunitas virtual adalah masyarakat yang
melakukan aktivitas sehari-hari seperti berkomunikasi, proses jual beli, dan
lain-lain tanpa harus bertatap muka atau bertemu secara fisik untuk melakukan
komunikasi. Komunitas virtual terbentuk karena adanya orang-orang yang memiliki
kesamaan minat dan sering berinteraksi satu sama lain. Komunitas ini memiliki
sistem bersama, norma-norma, dan aturan-aturan yang disepakati bersama oleh
komunitas itu sendiri.
Disadari atau tidak, saat seseorang memilih untuk bergabung dengan
dunia maya dan menjadi bagian dari komunitas virtual, maka sesungguhnya ia tengah membangun identitas
baru yakni identitasnya secara virtual. Identitas merupakan persoalan yang akan muncul di
media baru, dimana sosial media adalah salah satu wadah yang digunakan
penggunanya untuk mengekspresikan diri. Seseorang bisa menjadi individu yang baru dan berbeda dari diri aslinya di dalam komunitas virtual tersebut,
karena memang ada sebagian orang yang lebih mudah menunjukkan ekspresinya
melalui dunia maya daripada di dunia nyata.
Manusia dan identitas adalah dua hal yang tak terpisah. Dalam
kondisi dunia yang oleh Piliang disebut “dunia yang dilipat”, kini manusia
membangun identitas mereka dalam ruang dan pola interaksi yang berbeda. Ruang
berbeda karena dalam dunia cyber, manusia tak terhalang sekat-sekat
sosial yang ada. Manusia tak terhalang waktu untuk mengungkapkan apa yang dia
pikirkan dan rasakan. Ruang tersebut membawa implikasi pola interaksi yang
berbeda pula. Warga media baru terkadang tak perlu tahu kepada siapa dia
mencurahkan seluruh “unek-unek”-nya, atau dia tak cukup sungkan untuk menjadi
seseorang yang diharapkan oleh orang lain, walau dengan muka berbeda (Piliang, 2010).
Sebagai penutup, marilah kita menjadi user atau pengguna new
media yang bijaksana dalam menjadi bagian dari komunitas virtual.
Referensi:
Lievrouw,
Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping
and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.
Piliang, Yasraf Amir. (2010). Dunia yang
Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung: Matahari.
13:50

FOLLOW BLOGKU DONG SHALLY WKWK:((
ReplyDeletekayanya dulu udah di follow deh ._.
Delete