18 Mar 2016

Media Baru, Komunitas Virtual, dan Pergeseran Identitas

Posted by with 2 comments
Dewasa ini perkembangan teknologi komunikasi menjadi semakin pesat. Evolusi teknologi komunikasi menurut Everett M. Rogers (1986) terbagi menjadi empat era. Dimulai dari writing era, dimana orang berkomunikasi hanya lewat tulisan, yang kemudian berkembang hingga mampu menghasilkan mesin cetak pada printing era. Era selanjutnya adalah telecomunication era, dan yang terakhir yakni interactive communication atau komunikasi interaktif. Pada era komunikasi interaktif inilah kita saat ini tinggal, yakni ketika manusia hidup berdampingan dengan teknologi.
src: google
Perkembangan teknologi terjadi karena pada hakikatnya manusia memiliki sifat yang tidak pernah merasa puas akan apa yang diperolehnya. Kehadiran teknologi media baru menawarkan berbagai macam perangkat yang memberikan kemudahan bagi para penggunanya. Contohnya dalam berkomunikasi, zaman dulu orang harus menunggu hingga berhari-hari lamanya hanya untuk menerima pesan lewat sepucuk surat. Sedangkan saat ini, kita hanya perlu menekan tombol send pada layar telepon genggam kita dan, voila!
Pesan yang kita kirimkan akan diterima seketika itu juga dalam hitungan detik. Dengan adanya teknologi media baru ini pesan dengan mudah bisa kita terima atau kita berikan walaupun dengan jarak jauh sekalipun.

Karakteristik yang melekat pada ‘new media’ adalah pertama-tama, konsep “newness” atau kebaruan adalah gagasan relatif yang berkenaan dengan waktu dan tempat. Apa yang baru saat ini, esok akan menjadi sesuatu yang kuno, dan apa yang baru dalam suatu budaya, mungkin tidak diketahui oleh budaya lain. Media baru adalah fenomena konstruksi sosial dan sering menyimpang secara substansial dari maksud perancang aslinya. Karakteristik yang melekat pada media baru antara lain: adanya transformasi dalam cara-cara individu saat menggunakan media untuk menentukan tempat dan fungsi-fungsi media ini dalam kehidupan mereka sehari-hari; media baru melibatkan desentralisasi saluran untuk distribusi pesan; peningkatan kapasitas yang tersedia untuk transfer pesan berkat satelit, jaringan kabel dan komputer; peningkatan pilihan yang tersedia untuk penonton untuk terlibat dalam proses komunikasi, seringkali melibatkan bentuk komunikasi yang interaktif; peningkatan tingkat fleksibilitas untuk menentukan bentuk dan isi melalui digitalisasi pesan. Digitalisasi disini berarti bahwa isi dari satu medium dapat ditukarkan dengan yang lain.

Segala perkembangan yang ada di dunia ini tentu memiliki dampak. Begitu juga dengan kehadiran teknologi yang memberikan berbagai dampak, baik itu positif maupun negatif yang dapat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dampak positifnya antara lain: kehadiran teknologi baru akan menghapus ketidaksetaraan dan kejahatan dalam masyarakat; pendidikan akan meningkat; warga menjadi aktif dalam perdagangan dengan adanya kepemimpinan ekonomi baru yang lebih berkembang; nilai-nilai tradisional komunitas yang memudar dapat diperoleh kembali melalui komunikasi via internet; serta memberikan kemudahan-kemudahan lainnya yang tidak dapat kita temukan di media konvensional. Sedangkan dampak negatifnya antara lain: teknologi baru seperti televisi ditakutkan akan dijadikan sebagai alat potensial untuk propaganda politik; merusak struktur sosial; merusak bentuk atau deformasi pikiran muda; menurunkan nilai-nilai warisan budaya; menimbulkan polusi informasi akibat dari persebaran informasi di media; merebaknya kejahatan teknologi atau ‘cybercrime’; serta timbulnya sikap komsumtif.

Perkembangan teknologi atau media baru semakin pesat dan menawarkan fitur-fitur yang semakin canggih, memberikan berbagai kemudahan bagi para pengguna. Seperti internet, yang kini telah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat sehari-hari. Dari internet ini terciptalah sebuah masyarakat yang dinamakan virtual community.


Komunitas Virtual dan Pergeseran Identitas
Terciptanya komunitas virtual merupakan salah satu dampak dari adanya media (teknologi) baru, seperti berbagai perangkat elektronik dan internet. Istilah virtual community dikenalkan pertama kali oleh Rheingold dalam bukunya The Virtual Community Homesteading on the Electronic Frontier (2000). Dalam bukunya, ia menjelaskan tentang kehidupan manusia di dunia maya. Orang-orang yang tergabung dalam dunia maya ini dinamakan komunitas virtual (virtual community). Komunitas virtual adalah masyarakat yang melakukan aktivitas sehari-hari seperti berkomunikasi, proses jual beli, dan lain-lain tanpa harus bertatap muka atau bertemu secara fisik untuk melakukan komunikasi. Komunitas virtual terbentuk karena adanya orang-orang yang memiliki kesamaan minat dan sering berinteraksi satu sama lain. Komunitas ini memiliki sistem bersama, norma-norma, dan aturan-aturan yang disepakati bersama oleh komunitas itu sendiri.

Disadari atau tidak, saat seseorang memilih untuk bergabung dengan dunia maya dan menjadi bagian dari komunitas virtual, maka sesungguhnya ia tengah membangun identitas baru yakni identitasnya secara virtual. Identitas merupakan persoalan yang akan muncul di media baru, dimana sosial media adalah salah satu wadah yang digunakan penggunanya untuk mengekspresikan diri. Seseorang bisa menjadi individu yang baru dan berbeda dari diri aslinya di dalam komunitas virtual tersebut, karena memang ada sebagian orang yang lebih mudah menunjukkan ekspresinya melalui dunia maya daripada di dunia nyata.

Manusia dan identitas adalah dua hal yang tak terpisah. Dalam kondisi dunia yang oleh Piliang disebut “dunia yang dilipat”, kini manusia membangun identitas mereka dalam ruang dan pola interaksi yang berbeda. Ruang berbeda karena dalam dunia cyber, manusia tak terhalang sekat-sekat sosial yang ada. Manusia tak terhalang waktu untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan dan rasakan. Ruang tersebut membawa implikasi pola interaksi yang berbeda pula. Warga media baru terkadang tak perlu tahu kepada siapa dia mencurahkan seluruh “unek-unek”-nya, atau dia tak cukup sungkan untuk menjadi seseorang yang diharapkan oleh orang lain, walau dengan muka berbeda (Piliang, 2010).

Sebagai penutup, marilah kita menjadi user atau pengguna new media yang bijaksana dalam menjadi bagian dari komunitas virtual. 



Referensi:


Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.

Piliang, Yasraf Amir. (2010). Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung: Matahari.

2 comments:

thanks for comment :D