Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan kompleks membuat para
ahli melakukan berbagai penelitian. Sebagai user yang bijak, kita dapat mengambil
intisari dari berbagai literasi. Lievrouw dan Livingstone adalah dua diantara
banyak penulis yang menyusun berbagai penelitian mengenai perkembangan
teknologi komunikasi. Dalam bukunya yang berjudul Handbook of Media, salah
satu bab yang menarik untuk ditelisik adalah bab mengenai anak-anak dan new
media. Dalam bab ini pembahasan berfokus pada bagaimana
anak-anak menggunakan media baru (dalam hal ini komputer), dalam mengisi dan
menghabiskan waktu luangnya baik saat berada di rumah maupun di lingkungan
sepermainannya.
![]() |
| src: google.com |
Pembahasan dalam chapter ini diawali dengan perdebatan
mengenai children and new media. Kemudian berlanjut pada mengubah
pengertian umum mengenai masa anak-anak dan mempetimbangkan penggunaan sosial
dari beragam media baru diantara berbagai kelompok anak-anak yang berbeda. Lalu
diikuti dengan diskusi tentang pengalaman anak-anak dari media baru dimana
pertimbangan dari pendidikan menggunakan media baru oleh orang tua dan
anak-anak di rumah fokus utamanya adalah komputer dan budaya online
serta selanjutnya membahas mengenai pertimbangan dari pendidikan menggunakan
media baru oleh orang tua dan anak-anak di rumah. Dan yang terakhir, terdapat
diskusi singkat mengenai implikasi terhadap budaya dan pendidikan.
Bab ini penting untuk dibahas dalam kajian teknologi komunikasi di
Indonesia, karena melihat perkembangan teknologi digital yang telah menjamur di
Indonesia. Penggunaan komputer dan
internet sudah menjadi kebutuhan masyarakat untuk melakukan aktifitas dalam
pergaulannya yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan terutama pada anak-anak. Dalam
sisi positif, internet dapat digunakan anak-anak untuk menggali informasi,
belajar, sarana berinteraksi, serta meningkatkan kemampuan berteknologi. Namun demikian,
internet juga memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi perkembangan anak-anak,
seperti maraknya cybercrime, cyberporn, dan cyberbullying dimana
anak-anak merupakan pihak yang sangat rentan oleh pengaruh new media.
Namun, sisi negatif ini bukan berarti menganggap internet sebagai salah satu
hasil dari perkembangan teknologi yang disalahkan, sehingga ini menjadi penting
untuk dibahas agar menemukan cara penanggulangannya.
Anak-Anak dan Teknologi
Kemampuan orang tua untuk menyediakan berbagai fasilitas alat
komunikasi canggih bagi anak-anak mereka sering kali tidak sepadan dengan
kemampuan dan perhatian orang tua dalam memproteksi anak-anak dari potensi
negatif yang ditimbulkannya. Bagi sebagian orang tua, kemampuan menyediakan
fasilitas komunikasi terkini seperti smartphone atau gadget
justru menjadi ajang pamer sekaligus upaya menunjukkan eksistensi untuk
menegaskan kelas sosial ekonomi mereka sebagai orang tua yang mapan secara
ekonomi. Mereka lupa bahwa fasilitas yang diberikan itu ibarat pisau bermata
dua, yang tak hanya memudahkan anak-anak mereka mudah bersosialisasi dengan
teman sebayanya, tetapi juga berpotensi menikam mereka dari belakang akibat
intensitasnya mengeksplorasi isi materi dunia maya yang tidak mendidik. Melalui
alat-alat komunikasi super canggih itu, anak-anak akan terjembatani untuk
mengeksplorasi persoalan-persoalan sensitif, yang secara materi barangkali
tidak tepat atau belum sesuai dengan jenjang umur dan level kedewasaan mereka.
Melepas anak di media sosial tanpa memberi arahan dan persiapan,
ibaratnya seperti anak yang dibiarkan menyetir mobil sendiri dan memberi mereka
kunci tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu bagaimana cara menyetir. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman teman. Adik dari teman saya
yang bernama Li (nama samaran) memiliki kebiasaan yang menurut saya kurang tepat
untuk anak seusianya. Ia meluangkan waktu luang sepulang sekolahnya untuk menatap
layar komputer, bahkan hingga malam hari. Hal ini membuatnya menjadi tidak peka
terhadap sekeliling karena ia sangat fokus pada permainannya. Ia akan menjadi
sangat impulsif, agresif, dan pemarah.
Studi Mengenai Penggunaan Teknologi Komunikasi oleh Kementrian
Kominfo (2014)
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat
dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Teknoloi merupakan salah satu alat
untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju. Internet dapat memberikan manfaat
besar bagi pendidikan, penelitian, dan aspek kehidupan lainnya.
Kementrian Kominfo bersama dengan UNICEF pada tahun 2014 lalu
melakukan sebuah studi guna memahami dan menangani dampak penggunaan teknologi
informasi dan komunikasi terhadap gaya hidup anak-anak dan kaum muda di
negara-negara berkembang. Studi berjudul “Digital Citizenship Safety among
Children and Adolescents in Indonesia” bertujuan untuk melakukan survei
ekstensif terhadap perilaku digital generasi muda. Studi ini didanai oleh
UNICEF dan dilaksanakan oleh Kementerian Kominfo dengan menelusur aktivitas online
dari sampel anak dan remaja usia 10-19 (sebanyak 400 responden) yang tersebar
di seluruh negeri dan mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan.
![]() |
| src: google.com |
Menurut data yang diperoleh tim riset Kementrian Kominfo,
setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna
internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi
yang mereka gunakan. Hasil studi menemukan bahwa 80 persen responden yang
disurvei merupakan pengguna internet, dengan bukti kesenjangan digital yang
kuat antara mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih sejahtera di
Indonesia, dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan (dan kurang sejahtera).
Di Yogyakarta, Jakarta dan Banten, misalnya, hampir semua responden merupakan
pengguna internet. Sementara di Maluku Utara dan Papua Barat, kurang dari
sepertiga jumlah responden telah menggunakan internet (sumber: kominfo.go.id)
Hasil penelitian ini cukup unik. Kesenjangan yang paling jelas
terlihat, di daerah perkotaan hanya 13% dari anak dan remaja tidak menggunakan
internet, sementara daerah perdesaan, sejumlah 87% anak dan remaja tidak
mengakses internet. Mayoritas dari mereka yang disurvei telah menggunakan media online selama
lebih dari satu tahun, dan hampir setengah dari mereka mengaku pertama kali
belajar tentang internet dari teman. Studi ini mengungkapkan bahwa 69% responden
menggunakan komputer untuk mengakses internet. Sekitar 34% menggunakan laptop,
dan sebagian kecil (2%) terhubung melalui video game. 52% menggunakan ponsel
untuk mengakses internet, 21% menggunakan smartphone dan hanya 4% untuk
tablet.
Berdasarkan riset ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa anak-anak dan
remaja memiliki tiga motivasi utama untuk mengakses internet: mencari
informasi, terhubung dengan teman dan untuk hiburan. Pencarian informasi yang
dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media
sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.
Kembali lagi pada kita sebagai orang dewasa, bagaimana dalam
memberikan batasan-batasan pada anak tanpa mengekang kebebasan
mereka. Pada dasarnya orang tua harus bersikap tegas kepada anak untuk membatasi penggunaan media
digital karena itu, arahan (parental guidance) menjadi kunci utama bagi
keberhasilan anak melalui tingkatan perkembangannya yang aman dan terarah.
Referensi:
Lievrouw,
Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping
and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.
http://www.kominfo.go.id
17:40

