1 Apr 2016

Memberi Fasilitas Teknologi pada Anak, Bijakkah?

Posted by with No comments
Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan kompleks membuat para ahli melakukan berbagai penelitian. Sebagai user yang bijak, kita dapat mengambil intisari dari berbagai literasi. Lievrouw dan Livingstone adalah dua diantara banyak penulis yang menyusun berbagai penelitian mengenai perkembangan teknologi komunikasi. Dalam bukunya yang berjudul Handbook of Media, salah satu bab yang menarik untuk ditelisik adalah bab mengenai anak-anak dan new media. Dalam bab ini pembahasan berfokus pada bagaimana anak-anak menggunakan media baru (dalam hal ini komputer), dalam mengisi dan menghabiskan waktu luangnya baik saat berada di rumah maupun di lingkungan sepermainannya. 

src: google.com


Pembahasan dalam chapter ini diawali dengan perdebatan mengenai children and new media. Kemudian berlanjut pada mengubah pengertian umum mengenai masa anak-anak dan mempetimbangkan penggunaan sosial dari beragam media baru diantara berbagai kelompok anak-anak yang berbeda. Lalu diikuti dengan diskusi tentang pengalaman anak-anak dari media baru dimana pertimbangan dari pendidikan menggunakan media baru oleh orang tua dan anak-anak di rumah fokus utamanya adalah komputer dan budaya online serta selanjutnya membahas mengenai pertimbangan dari pendidikan menggunakan media baru oleh orang tua dan anak-anak di rumah. Dan yang terakhir, terdapat diskusi singkat mengenai implikasi terhadap budaya dan pendidikan.

Bab ini penting untuk dibahas dalam kajian teknologi komunikasi di Indonesia, karena melihat perkembangan teknologi digital yang telah menjamur di Indonesia. Penggunaan komputer dan internet sudah menjadi kebutuhan masyarakat untuk melakukan aktifitas dalam pergaulannya yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan terutama pada anak-anak. Dalam sisi positif, internet dapat digunakan anak-anak untuk menggali informasi, belajar, sarana berinteraksi, serta meningkatkan kemampuan berteknologi. Namun demikian, internet juga memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi perkembangan anak-anak, seperti maraknya cybercrime, cyberporn, dan cyberbullying dimana anak-anak merupakan pihak yang sangat rentan oleh pengaruh new media. Namun, sisi negatif ini bukan berarti menganggap internet sebagai salah satu hasil dari perkembangan teknologi yang disalahkan, sehingga ini menjadi penting untuk dibahas agar menemukan cara penanggulangannya.


Anak-Anak dan Teknologi
Kemampuan orang tua untuk menyediakan berbagai fasilitas alat komunikasi canggih bagi anak-anak mereka sering kali tidak sepadan dengan kemampuan dan perhatian orang tua dalam memproteksi anak-anak dari potensi negatif yang ditimbulkannya. Bagi sebagian orang tua, kemampuan menyediakan fasilitas komunikasi terkini seperti smartphone atau gadget justru menjadi ajang pamer sekaligus upaya menunjukkan eksistensi untuk menegaskan kelas sosial ekonomi mereka sebagai orang tua yang mapan secara ekonomi. Mereka lupa bahwa fasilitas yang diberikan itu ibarat pisau bermata dua, yang tak hanya memudahkan anak-anak mereka mudah bersosialisasi dengan teman sebayanya, tetapi juga berpotensi menikam mereka dari belakang akibat intensitasnya mengeksplorasi isi materi dunia maya yang tidak mendidik. Melalui alat-alat komunikasi super canggih itu, anak-anak akan terjembatani untuk mengeksplorasi persoalan-persoalan sensitif, yang secara materi barangkali tidak tepat atau belum sesuai dengan jenjang umur dan level kedewasaan mereka.

Melepas anak di media sosial tanpa memberi arahan dan persiapan, ibaratnya seperti anak yang dibiarkan menyetir mobil sendiri dan memberi mereka kunci tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu bagaimana cara menyetir. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman teman. Adik dari teman saya yang bernama Li (nama samaran) memiliki kebiasaan yang menurut saya kurang tepat untuk anak seusianya. Ia meluangkan waktu luang sepulang sekolahnya untuk menatap layar komputer, bahkan hingga malam hari. Hal ini membuatnya menjadi tidak peka terhadap sekeliling karena ia sangat fokus pada permainannya. Ia akan menjadi sangat impulsif, agresif, dan pemarah.


Studi Mengenai Penggunaan Teknologi Komunikasi oleh Kementrian Kominfo (2014)
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Teknoloi merupakan salah satu alat untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju. Internet dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan, penelitian, dan aspek kehidupan lainnya.

Kementrian Kominfo bersama dengan UNICEF pada tahun 2014 lalu melakukan sebuah studi guna memahami dan menangani dampak penggunaan teknologi informasi dan komunikasi terhadap gaya hidup anak-anak dan kaum muda di negara-negara berkembang. Studi berjudul “Digital Citizenship Safety among Children and Adolescents in Indonesia” bertujuan untuk melakukan survei ekstensif terhadap perilaku digital generasi muda. Studi ini didanai oleh UNICEF dan dilaksanakan oleh Kementerian Kominfo dengan menelusur aktivitas online dari sampel anak dan remaja usia 10-19 (sebanyak 400 responden) yang tersebar di seluruh negeri dan mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan.
src: google.com

Menurut data yang diperoleh tim riset Kementrian Kominfo, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Hasil studi menemukan bahwa 80 persen responden yang disurvei merupakan pengguna internet, dengan bukti kesenjangan digital yang kuat antara mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih sejahtera di Indonesia, dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan (dan kurang sejahtera). Di Yogyakarta, Jakarta dan Banten, misalnya, hampir semua responden merupakan pengguna internet. Sementara di Maluku Utara dan Papua Barat, kurang dari sepertiga jumlah responden telah menggunakan internet (sumber: kominfo.go.id)

Hasil penelitian ini cukup unik. Kesenjangan yang paling jelas terlihat, di daerah perkotaan hanya 13% dari anak dan remaja tidak menggunakan internet, sementara daerah perdesaan, sejumlah 87% anak dan remaja tidak mengakses internet. Mayoritas dari mereka yang disurvei telah menggunakan media online selama lebih dari satu tahun, dan hampir setengah dari mereka mengaku pertama kali belajar tentang internet dari teman. Studi ini mengungkapkan bahwa 69% responden menggunakan komputer untuk mengakses internet. Sekitar 34% menggunakan laptop, dan sebagian kecil (2%) terhubung melalui video game. 52% menggunakan ponsel untuk mengakses internet, 21% menggunakan smartphone dan hanya 4% untuk tablet.

Berdasarkan riset ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa anak-anak dan remaja memiliki tiga motivasi utama untuk mengakses internet: mencari informasi, terhubung dengan teman dan untuk hiburan. Pencarian informasi yang dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.

Kembali lagi pada kita sebagai orang dewasa, bagaimana dalam memberikan batasan-batasan pada anak tanpa mengekang kebebasan mereka. Pada dasarnya orang tua harus bersikap tegas  kepada anak untuk membatasi penggunaan media digital karena itu, arahan (parental guidance) menjadi kunci utama bagi keberhasilan anak melalui tingkatan perkembangannya yang aman dan terarah.



Referensi:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.



http://www.kominfo.go.id