25 Mar 2016

Internet dan Lenyapnya Batas-Batas Sosial

Posted by with No comments
Internet sudah menjadi salah satu teknologi yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat modern. Setiap hari rasanya akan janggal bila tak diisi dengan akses internet untuk sekedar browsing, mengirim email atau mengakses media sosial. Selalu ada saja hal menarik yang bisa kita temui setiap kali kita mengakses internet.

src: google.com

Tak dipungkiri dengan adanya internet memberikan banyak efek yang sangat drastis dalam perkembangan kemajuan teknologi bagi manusia di dunia yang sangat luas ini.
Internet menghadirkan kemudahan dalam berbagai hal dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Rice dan Haythornthwaite dalam buku Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs meninjau kembali tentang penelitian relevan terhadap tiga isu utama dalam perspektif penggunaan internet (akses; keterlibatan warga, politik, dan komunitas; serta interaksi sosial dan bentuk ekspresi di dunia virtual) dengan cara mengelompokkan argumen dan hasil penelitian ke dalam perspektif pesimis dan optimis.

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba sedikit membahas mengenai mudahnya akses internet yang berdampak pada lenyapnya batas-batas sosial. Di era globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsep-konsep sosial tampak semakin kehilangan realitas sosialnya dan mungkin, pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah “mitos”. Berbagai realitas sosial yang berkembang dalam skala global –khususnya sebagai akibat kemajuan teknologi informasi– justru menggiring masyarakat global ke arah akhir sosial.

Perspektif Optimis dan Pesimis Internet terkait dengan Akses
Perspektif ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan para peneliti di Amerika Serikat. Perhatian utama terkait dengan akses meliputi: siapa yang memiliki akses internet, apa motivasi orang menggunakan internet, kendala apa yang menghambat, serta karakteristik apa yang melekat pada mereka yang berhenti menggunakan internet (Katz dan Aspden, 1997a, 1997b, 1997c).

Perspektif Pesimis
Pesimisme mengenai akses berakar dari perhatian tentang adanya akses yang tidak seimbang dan keuntungan yang tidak merata karena ketidaksetaraan yang terjadi. Banyak yang meneliti bahwa minoritas kurang memiliki akses terhadap komputer dan internet dibanding mayoritas, dan hal tersebut membuat mereka tidak dapat berpartisipasi pada aktifitas internet (Neu et al., 1999).

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bagaimana akses oleh orang-orang di sektor-sektor tradisional yang biasanya berpendidikan rendah, berpendapatan rendah, serta usia yang sudah lanjut memiliki pengalaman yang kurang dalam dunia online.

Sebuah studi oleh UCLA pada tahun 2000 membandingkan pengguna internet dengan yang bukan pengguna internet dan serta nonpengguna yang kemungkinan akan menjadi pengguna di kemudian hari. Studi ini menemukan bahwa keberhasilan studi akademis diperoleh berkat akses yang memadai pada internet.

Sementara itu dalam hal gender, studi ini menunjukan lebih banyak wanita yang menggunakan akses internet daripada laki-laki. Namun saat ini saat ini di seluruh dunia lebih banyak pria daripada wanita yang cenderung memiliki akses ke internet.

Perspektif Optimis
Sementara itu penelitian terbaru melihat bagaimana akses internet memberikan optimisme. Para peneliti (ECRL, 1999; Howard et al, 2002; Katz dan Rice, 2002a) telah menemukan bahwa perbedaan ras dan gender dalam akses internet merupakan variabel lain yang diperhitungkan secara statistik. Namun yang lebih ditekankan pada perspektif ini adalah adanya upaya-upaya untuk mengatasi keterbatasan pada akses yang disebabkan karena keterbatasan tubuh seseorang. Pada tahun 1990, pemerintah mencari cara untuk memberikan pelayanan bagi para disabilitas, dengan cara mewajibkan semua operator layanan untuk menyediakan akses komunikasi bagi warga Amerika yang memiliki gangguan pendengaran (Borchert, 1998: 56). Sebuah contoh yang baik dari hal ini adalah OS (operating system) Windows terbaru yang menawarkan program dan aplikasi pintar untuk para penyandang cacat. Melalui jaringan komunikasi yang khusus, ada potensi bagi para penyandang cacat untuk mengatasi keterbatasan ini.


Internet dan Lenyapnya Batas-Batas Sosial
Kemudahan akses saat ini dapat dirasakan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Masing-masing generasi mendapatkan kemudahan untuk berkomunikasi melalui dunia virtual, dimana jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala besar. Prediksi terburuk yang diramalkan oleh para ahli akibat dari internet adalah lenyapnya batas-batas sosial yang berujung pada akhir sosial.

src: google.com

Piliang dalam bukunya Sebuah Dunia yang Dilipat mengungkapkan bahwa lenyapnya batas sosial dimungkinkan terjadi ketika berbagai media informasi (televisi, komputer, internet) telah bersifat transparan. Artinya, setiap informasi yang sebelumnya secara sosial dianggap terlarang, tabu, haram, dan sebagainya, kini dapat diperoleh secara terbuka oleh siapapun lewat berbagai media. Hal ini yang kemudian membawa masyarakat menuju akhir sosial.

Proses akhir sosial ini kini dipercepat dan mencapai keadaan maksimalnya di tangan media dan informasi (televisi, internet), yang menciptakan berbagai simulasi relasi sosial. Setiap media dan informasi bergerak melalui dua arah: ke luar ia akan memproduksi semakin banyak relasi sosial, ke dalam ia justru menetralisasi relasi sosial dan sosial itu sendiri (Baudrillard dalam Piliang, 1999).

Akhir sosial ditandai oleh transparansi sosial, yaitu satu kondisi lenyapnya kategori sosial, batas sosial, hierarki sosial yang sebelumnya membentuk masyarakat. Batas-batas sosial antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa lenyap di tangan majalah porno, film biru atau disket cyberporn; batas antara proletariat dan borjuis lenyap di dalam arena virtualisme konsumsi (konsumerisme); batas antara penguasa dan teroris lenyap di tangan terorisme virtual (teror yang direkayasa oleh penguasa sendiri); batas antara bencana ekonomi dan rekayasa ekonomi lenyap di dalam bencana ekonomi virtual (di mana para pejabat bank sentral pun ikut bermain dalam spekulasi); batas antara kebenaran dan kepalsuan lenyap di tangan virtualitas media dan informasi (Piliang, 1999: 72-73).

Teknologi kini bergerak menuju pergerakan ke arah ekstremitas, yakni suatu kondisi ketika segala sesuatu berkembang melampaui batas alamiahnya, ketika segala sesuatu bergerak melewati kecepatan maksimumnya. Yang menjadi persoalan kini adalah bahwa setelah segala sesuatu telah mencapai titik ekstremnya, ketika setiap fantasi menjadi realitas, ketika setiap angan-angan, setiap mimpi menjadi kenyataan sosial, masih dapatkah kita menyusun sebuah skenario futuristik bila batas-batas antara masa lalu, masa kini, dan masa depan semakin kabur?

Sebagai penutup, marilah kita menjadi bagian pengguna internet yang bijaksana dalam menjadi bagian dari dunia virtual.



Referensi:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.

Piliang, Yasraf Amir. 1999. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme, Cetakan Ke-III. Bandung: Mizan.

0 komentar:

Post a Comment

thanks for comment :D