Internet sudah menjadi salah satu teknologi yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat modern. Setiap hari rasanya akan janggal bila tak diisi dengan akses internet untuk sekedar browsing, mengirim email atau mengakses media sosial. Selalu ada saja hal menarik yang bisa kita temui setiap kali kita mengakses internet.
![]() |
| src: google.com |
Tak dipungkiri dengan adanya internet memberikan banyak efek yang
sangat drastis dalam perkembangan kemajuan teknologi bagi manusia di dunia yang
sangat luas ini.
Internet menghadirkan kemudahan dalam berbagai hal dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Rice dan Haythornthwaite dalam buku Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs meninjau kembali tentang penelitian relevan terhadap tiga isu utama dalam perspektif penggunaan internet (akses; keterlibatan warga, politik, dan komunitas; serta interaksi sosial dan bentuk ekspresi di dunia virtual) dengan cara mengelompokkan argumen dan hasil penelitian ke dalam perspektif pesimis dan optimis.
Internet menghadirkan kemudahan dalam berbagai hal dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Rice dan Haythornthwaite dalam buku Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs meninjau kembali tentang penelitian relevan terhadap tiga isu utama dalam perspektif penggunaan internet (akses; keterlibatan warga, politik, dan komunitas; serta interaksi sosial dan bentuk ekspresi di dunia virtual) dengan cara mengelompokkan argumen dan hasil penelitian ke dalam perspektif pesimis dan optimis.
Dalam tulisan ini, saya akan mencoba sedikit membahas mengenai mudahnya
akses internet yang berdampak pada lenyapnya batas-batas sosial. Di era
globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsep-konsep sosial tampak semakin
kehilangan realitas sosialnya dan mungkin, pada akhirnya hanya akan menjadi
sebuah “mitos”. Berbagai realitas sosial yang berkembang dalam skala global
–khususnya sebagai akibat kemajuan teknologi informasi– justru menggiring
masyarakat global ke arah akhir sosial.
Perspektif Optimis dan Pesimis Internet terkait dengan Akses
Perspektif ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan para
peneliti di Amerika Serikat. Perhatian utama terkait dengan akses meliputi:
siapa yang memiliki akses internet, apa motivasi orang menggunakan internet, kendala
apa yang menghambat, serta karakteristik apa yang melekat pada mereka yang
berhenti menggunakan internet (Katz dan Aspden, 1997a, 1997b, 1997c).
Perspektif Pesimis
Pesimisme mengenai akses berakar dari perhatian tentang adanya
akses yang tidak seimbang dan keuntungan yang tidak merata karena
ketidaksetaraan yang terjadi. Banyak yang meneliti bahwa minoritas kurang
memiliki akses terhadap komputer dan internet dibanding mayoritas, dan hal
tersebut membuat mereka tidak dapat berpartisipasi pada aktifitas internet (Neu
et al., 1999).
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bagaimana akses oleh
orang-orang di sektor-sektor tradisional yang biasanya berpendidikan rendah,
berpendapatan rendah, serta usia yang sudah lanjut memiliki pengalaman yang
kurang dalam dunia online.
Sebuah studi oleh UCLA pada tahun 2000 membandingkan pengguna
internet dengan yang bukan pengguna internet dan serta nonpengguna yang
kemungkinan akan menjadi pengguna di kemudian hari. Studi ini menemukan bahwa
keberhasilan studi akademis diperoleh berkat akses yang memadai pada internet.
Sementara itu dalam hal gender, studi ini menunjukan lebih banyak
wanita yang menggunakan akses internet daripada laki-laki. Namun saat ini saat
ini di seluruh dunia lebih banyak pria daripada wanita yang cenderung memiliki
akses ke internet.
Perspektif Optimis
Sementara itu penelitian terbaru melihat bagaimana akses internet
memberikan optimisme. Para peneliti (ECRL, 1999; Howard et al, 2002; Katz dan
Rice, 2002a) telah menemukan bahwa perbedaan ras dan gender dalam akses
internet merupakan variabel lain yang diperhitungkan secara statistik. Namun
yang lebih ditekankan pada perspektif ini adalah adanya upaya-upaya untuk
mengatasi keterbatasan pada akses yang disebabkan karena keterbatasan tubuh
seseorang. Pada tahun 1990, pemerintah mencari cara untuk memberikan pelayanan bagi
para disabilitas, dengan cara mewajibkan semua operator layanan untuk
menyediakan akses komunikasi bagi warga Amerika yang memiliki gangguan pendengaran
(Borchert, 1998: 56). Sebuah contoh yang baik dari hal ini adalah OS (operating
system) Windows terbaru yang menawarkan program dan aplikasi pintar untuk
para penyandang cacat. Melalui jaringan komunikasi yang khusus, ada potensi
bagi para penyandang cacat untuk mengatasi keterbatasan ini.
Internet dan Lenyapnya Batas-Batas Sosial
Kemudahan akses saat ini dapat dirasakan oleh berbagai kalangan,
mulai dari anak-anak hingga dewasa. Masing-masing generasi mendapatkan
kemudahan untuk berkomunikasi melalui dunia virtual, dimana jarak dan waktu tidak
lagi menjadi kendala besar. Prediksi terburuk yang diramalkan oleh para ahli akibat
dari internet adalah lenyapnya batas-batas sosial yang berujung pada akhir
sosial.
![]() |
| src: google.com |
Piliang dalam bukunya Sebuah Dunia yang Dilipat mengungkapkan bahwa lenyapnya batas sosial dimungkinkan terjadi ketika berbagai media informasi (televisi, komputer, internet) telah bersifat transparan. Artinya, setiap informasi yang sebelumnya secara sosial dianggap terlarang, tabu, haram, dan sebagainya, kini dapat diperoleh secara terbuka oleh siapapun lewat berbagai media. Hal ini yang kemudian membawa masyarakat menuju akhir sosial.
Proses akhir sosial ini kini dipercepat dan mencapai keadaan
maksimalnya di tangan media dan informasi (televisi, internet), yang
menciptakan berbagai simulasi relasi sosial. Setiap media dan informasi
bergerak melalui dua arah: ke luar ia akan memproduksi semakin banyak relasi
sosial, ke dalam ia justru menetralisasi relasi sosial dan sosial itu sendiri
(Baudrillard dalam Piliang, 1999).
Akhir sosial ditandai oleh transparansi sosial, yaitu satu kondisi
lenyapnya kategori sosial, batas sosial, hierarki sosial yang sebelumnya
membentuk masyarakat. Batas-batas sosial antara dunia anak-anak dan dunia orang
dewasa lenyap di tangan majalah porno, film biru atau disket cyberporn;
batas antara proletariat dan borjuis lenyap di dalam arena virtualisme konsumsi
(konsumerisme); batas antara penguasa dan teroris lenyap di tangan terorisme
virtual (teror yang direkayasa oleh penguasa sendiri); batas antara bencana
ekonomi dan rekayasa ekonomi lenyap di dalam bencana ekonomi virtual (di mana
para pejabat bank sentral pun ikut bermain dalam spekulasi); batas antara
kebenaran dan kepalsuan lenyap di tangan virtualitas media dan informasi
(Piliang, 1999: 72-73).
Teknologi kini bergerak menuju pergerakan ke arah ekstremitas,
yakni suatu kondisi ketika segala sesuatu berkembang melampaui batas
alamiahnya, ketika segala sesuatu bergerak melewati kecepatan maksimumnya. Yang
menjadi persoalan kini adalah bahwa setelah segala sesuatu telah mencapai titik
ekstremnya, ketika setiap fantasi menjadi realitas, ketika setiap angan-angan,
setiap mimpi menjadi kenyataan sosial, masih dapatkah kita menyusun sebuah
skenario futuristik bila batas-batas antara masa lalu, masa kini, dan masa
depan semakin kabur?
Sebagai penutup, marilah kita menjadi bagian pengguna internet yang bijaksana dalam menjadi bagian dari dunia virtual.
Sebagai penutup, marilah kita menjadi bagian pengguna internet yang bijaksana dalam menjadi bagian dari dunia virtual.
Referensi:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New
Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd.
London.
Piliang, Yasraf Amir. 1999. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas
Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme, Cetakan
Ke-III. Bandung: Mizan.
12:26


0 komentar:
Post a Comment
thanks for comment :D