14 May 2016

Mata Najwa On Stage Purwokerto berlangsung Dramatis

Posted by with 7 comments
Hari ini saya ingin berkeluh kesah...


Sudah sejak lama saya menanti sebuah acara talkshow sebesar Mata Najwa tampil di kota mendoan, Purwokerto. Penantian panjang saya terjawab sudah. Pada 28 April 2016  lalu saya dikejutkan oleh postingan mba Nana (Najwa Shihab) di akun instagramnya yang mengabarkan bahwa Mata Najwa akan hadir di Purwokerto. Merasa kurang percaya, saya bertanya pada teman-teman mahasiswa lain yang memiliki koneksi dengan kakak angkatan yang bekerja di Metro TV, dan ternyata benar bahwa akan ada Mata Najwa On Stage Purwokerto di bulan Mei. Rasa senang tiada tara saya rasakan karena saya berkesempatan melihat secara live Tuan Rumah Mata Najwa, idola saya sejak lama.

Mata Najwa On Stage Purwokerto (src: twitter)

Tiap hari saya cek sosial media @MataNajwa, mulai dari twitter hingga instagram. Setiap ada pembaharuan informasi selalu saya ikuti. Akhirnya pendaftaran mulai dibuka pada 4 Mei secara online. Seusai kuliah saya langsung mendaftar. Baru 10 menit dibuka, ternyata sudah ada lebih dari 300 pendaftar.

Mata Najwa On Stage yang dilaksanakan tanggal 13 Mei 2016 ini menghadirkan sejumlah narasumber, mulai dari kepala daerah, politisi hingga musisi. Musisi ternama yang hadir adalah Gita Gutawa dan Endank Soekamti.

Hari demi hari saya lalui dengan ekspektasi acara yang sangat luar biasa. Sebelumnya, saya selalu rajin streaming saat MNOS di kota-kota sebelumnya. Selalu manarik, selalu seru, dan selalu ada yang baru. Beberapa kali saya ‘merengek’ ke berbagai akun media sosial @matanajwa agar bisa hadir di Purwokerto. Penantian panjang saya terjawab sudah dengan adanya event Mata Najwa On Stage Purwokerto.

Untuk dapat menyaksikan acara Mata Najwa On Stage Purwokerto ini bukan tanpa perjuangan. Setelah mendaftar secara online dan mendapatkan e-ticket, para pendaftar diwajibkan untuk menukarkan e-ticket yang telah di cetak dengan tiket asli untuk dapat memasuki arena penonton. Saat proses registrasi ulang, kami dihadapkan dengan cuaca yang cukup ekstrim. Sangat panas pada siang harinya, kemudian tiba-tiba langit mendung dan turunlah hujan. Kami semua para calon penonton MNOS rela mengantri panjang, kepanasan dan kehujanan demi mendapatkan selembar tiket untuk menyaksikan Mata Najwa secara langsung. Panas terik hujan badai bukan halangan karena animo masyarakat yang tinggi.

Kenapa saya bubuhi judul tulisan ini dengan kata ‘dramatis’? Ya, karena ekspektasi tinggi saya (dan sebagian besar penonton lainnya) terhadap kelancaran dan kesuksesan acara ini tidak sejalan dengan yang kami bayangkan.

Antre memasuki lapangan
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tepatnya hari Jumat, 13 Mei 2016 acara puncak Mata Najwa On Stage Purwokerto digelar. Para peserta hadir dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, orang-orang kantoran, bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, hingga kakek nenek. Saya dan teman-teman sudah mengatri dari pukul 3 sore demi mendapatkan tempat duduk terdekat dengan panggung. Begitu gate dibuka pukul 5 sore lebih, orang-orang yang ada di antrean belakang langsung berebut tempat dengan tujuan yang sama, yakni duduk di tempat yang strategis. Aksi dorong-dorongan seperti ini sangat wajar terjadi, saya rasa acara apapun pasti saat gate-nya baru terbuka, semua inginnya duluan. Ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa besar dari masyarakat untuk menyaksikan Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. Biasanya hanya bisa melihat di televisi, kali ini dapat melihat secara langsung tanpa sekat layar kaca.
Antrean penonton sebelum open gate (src: twitter @MataNajwa)

Keributan pertama
MNOS Purwokerto ini terdiri dari dua jalur masuk, yakni Fast Track dan Reguler. Fast track untuk orang-orang yang memiliki keuntungan tertentu sehingga mereka bisa duduk di baris terdepan tanpa perlu mengantri panjang. Fasilitas ini terbatas hanya untuk 160 orang saja. Sedangkan jalur Reguler untuk penonton biasa, seperti saya. Saya duduk dengan manis, tenang, dan puas mendapatkan lokasi yang strategis. Kemudian keributan pertama terjadi saat dua baris pertama penonton Reguler di minta untuk maju oleh panitia. Yang terjadi kemudian adalah tidak hanya 2 baris pertama yang maju, tapi banyak sekali yang berebut hingga kapasitas untuk penonton jalur fast track yang tadinya masih separuh, sudah penuh. Karena keributan ini, kondisinya jadi agak ribut. Ibu-ibu di belakang saya yang tadinya sudah duduk tenang malah jadi ndak kebagian tempat duduk. “Ini gimana sih panitianya? Trus apa itu fungsinya garis pembatas kalo akhirnya gini juga? Itu ada loh orang-orang yang duduk di jalur fast track yang lagi sholat maghrib, nanti pas balik mereka gak bisa duduk gimana?” ujarnya dengan nada tinggi.

Saya juga cukup kaget dengan kejadian ini. Saya terpisah dengan rombongan teman-teman saya. Alhasil, tempat duduk saya juga makin sempit. Berkali-kali saya susah payah mengubah posisi duduk, karena kaki saya cukup panjang, hehehe. Namun akhirnya saya mendapatkan posisi yang nyaman juga.

Duduk dengan nyaman, saya mengikuti serangkaian acara dengan tenang. Mulai dari segmen StandUp Comedy hingga segmen sponsorship, saya dengan sabar menanti acara puncak, menunggu Najwa Shihab keluar untuk mengobati penat saya dan penonton lainnya.

Penonton Kondusif saat Penampilan Komika (dokumen pribadi)

Keributan kedua
Belum sempat tuan rumah keluar, tiba-tiba rintik hujan mulai turun. Awalnya saya berpikir, wah ini pawang hujannya hebat sekali, karena pada hari itu cuaca benar-benar cerah. Ternyata saya salah, rintik hujan tadi mulai menderas saat Endank Soekamti tampil sebagai pembuka acara. Beberapa di antara penonton mulai mengeluarkan pelindung berupa payung atau jas hujan. Beberapa diantaranya berdiri, mungkin untuk menepi karena tidak membawa pelindung diri.

Saat suasana sedang kacau akibat hujan, tiba-tiba dari arah belakang muncul kerumunan orang-orang yang mengenakan baju hitam-hitam, yang menjuluki dirinya sebagai Kamtis Family (nama fans Endank Soekamti). Mereka mendesak maju ke barisan depan. Kami yang duduk di barisan depan di dorong-dorong. Saya akhirnya berdiri karena takut terinjak-injak. Mereka terus memaksa maju, saya bahkan hampir jatuh berkali-kali. Saya mencoba bertahan duduk kembali namun akhirnya menyerah juga. Mereka terlalu brutal saat mendesak maju kedepan.

Ada orang tua, anak-anak, perempuan, mereka tetap terjang. Padahal saya sudah berusaha berteriak pada mereka untuk kembali mundur dan jangan mengganggu ketertiban, tapi mereka seolah tidak punya telinga, pura-pura tuli dan tidak peduli. Acara talkshow yang mendidik berubah menjadi konser fans-fans fanatik.

Dalam waktu singkat, ada yang kecopetan dan barang-barangnya hilang. Ironisnya pihak keamanan tidak segera mengatasi hal tersebut. Saya melihat sekeliling, yang terlihat hanya massa Kamtis yang maaf, merusak suasana kondusif. Saya bertanya-tanya, dimana pihak keamanan pada saat itu? Kenapa gerombolan Kamtis bisa maju kedepan? Saya yakin beberapa diantara kerumunan itu ada yang mabuk, matanya merah dan jalannya sempoyongan. Teman saya sampai menangis, dia takut dengan orang-orang anarkis.

Saya lebih kasihan dengan anak-anak kecil yang semangat dan antusias menonton Mata Najwa. Ada sebuah kejadian yang membuat saya ingin menitikkan air mata lagi jika teringat. Saat massa Kamtis menerjang lini depan, ada seorang anak kecil di depan saya, menangis ketakutan. Ibunya juga tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa menenangkan si anak. Kami semua dalam posisi terjepit satu sama lain. Saya bantu elus-elus kepalanya, menepuk-nepuk pelan bahunya, berharap bisa membuat dia merasa tenang. Sekali lagi saya berteriak pada massa Kamtis tapi mereka tidak peduli. Saya kasihan sekali dengan kondisi psikis anak itu, pasti sangat traumatis.

Tadinya saya ingin bertahan duduk dalam kerumunan, namun akhirnya saya menyerah. Saya memilih untuk mundur teratur. Saya menjadi sangat protektif dengan diri saya sendiri. Ada seorang laki-laki yang mendekat karena ingin saya berbagi payung. Dengan tegas saya berkata, “Mas siapa? Maaf saya nggak kenal mas”, kemudian saya tinggal pergi. Saya terlalu takut untuk berbagi karena kondisi saya yang masih syok.

Saya tidak kecewa dengan talkshow-nya. Saya juga tidak kecewa dengan para pengisi acara. Saya justru sangat terhibur dengan kehadiran Endank Soekamti di Mata Najwa On Stage kali ini. Yang saya sesalkan adalah sikap massa yang menerobos ke barisan depan dan membuat suasana menjadi tidak tertib.

Puas Menonton Mata Najwa
Meski demikian, saya mengikuti talkshow ini hingga Catatan Najwa selesai dibacakan. Saya menonton lewat layar besar yang disediakan oleh tim Metro TV. Masyarakat juga banyak yang mengikuti acara hingga akhir. Pada intinya, keributan-keributan yang terjadi biarlah. Yang sudah terjadi ya sudah. Acara Mata Najwa On Stage Purwokerto tetap meriah dan banyak juga yang merasa terpuaskan. Letihnya penonton terbayar sudah karena kecerdasan Najwa Shihab dalam membawakan acaranya. Pembicaraan politik yang di anggap berat, dibawakan dengan ringan oleh mba Nana dengan bumbu-bumbu humor ala politik sehingga masyarakat juga lebih mudah menerima. Acara Mata Najwa On Stage Purwokerto diharapkan dapat membawa dampak yang positif bagi masyarakat pada umumnya dan Purwokerto pada khususnya.

Menonton via screen. Najwa Shihab emang gak ada duanya :* (dokumen pribadi)
 
Puncak acara ditutup oleh penampilan Endank Soekamti (dokumen pribadi)

Tulisan saya ini tidak bermaksud provokatif, atau menyudutkan pihak-pihak tertentu. Sekali lagi saya hanya ingin berkeluh kesah...

7 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. keren shel, mantep (y)

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. tulisan yang bagus, yang aku rasakan juga begitu, kalo aku gak puas dengan tontonannya banyak yang kurang banget dari acara tersebut, mlai dari gate masuk yg ga dikasih jalur liuk2 gtu jd orang lngsung srbu masukk aja, trus aparat kemanan yang acuh tak acuh sama keributan, salah satu dari dua pengisi acara yang kurang relevan dengan konsep acara tersebut, ditambah yang ngadainnya media itu seperti yang penting acaranya ramai dan bisa digelar, tapi esensi lainnya yang lebih penting dari pada jingkrak2nya gak begitu dapet...
    konyol acaranya kurang idealis bobrok banget entah karena kreatifnya yang mhon maaf rada2 atau gimana...
    purwokerto sepertinya kaya bakalan sepi kalo ga ngundang salah satu dari dua pengisi acara tersebut pasrah banget timnya, apa iya purwokerto sesepi itu, itu namanya mnurut ku kaya ngeremehin purwokerto, mentang2 kota kecil disuguhinnya yang bgtuan....
    freak banget, coba kalo NET TV yang punya hajatan aku yakin mereka punya visi dan idealisme yang tinggi serta mengedepankan kualitas...

    ReplyDelete
  5. itu yang salah sebenernya pihak penyelenggaranya, maaf bukan bermaksud memojokan, tapi kalo dievaluasi ya memang penyelenggara yang kurang mempunyai ide, okee kalo pun ngundang bintang tamu tersebut it's oke, tapi setting dari ketika dia tampil kan bisa diganti dengan setting akustik yang lebih formal dan dapat meminimalisirkan ketidak tertiban, tetapi penyelenggara memaksa agar tetap membawakan format full band, dan penyelenggara meminta juga menyanyikan lagu andalan yang temponya emang asik banget buat goyang, pengisi padahal sudah menolak buat menyanyikan lagu yg ccukup jingkrak2an tetapi lagi2 penyelenggara meminta untuk seperti itu....
    memang tidak salah para2 fans dari pengisi acara tersebut menonton dan terbawa suasana konser yang emang enak buat goyang mosing dan segala macem itu hal yang wajar ketika menonton konser apa lagi dengan band yang lagunya cukup membangkitkan gairah untuk joget dll....
    jadi sekali lagi tim kreatif seharusnya dapat mendengar masukan juga dari si artis tersebut yang emang udah tau kondisi lapangan kalo bawain dengan format begini jadinya gimana, kalo format begitu jadinya gimana...

    ReplyDelete
  6. itu yang salah sebenernya pihak penyelenggaranya, maaf bukan bermaksud memojokan, tapi kalo dievaluasi ya memang penyelenggara yang kurang mempunyai ide, okee kalo pun ngundang bintang tamu tersebut it's oke, tapi setting dari ketika dia tampil kan bisa diganti dengan setting akustik yang lebih formal dan dapat meminimalisirkan ketidak tertiban, tetapi penyelenggara memaksa agar tetap membawakan format full band, dan penyelenggara meminta juga menyanyikan lagu andalan yang temponya emang asik banget buat goyang, pengisi padahal sudah menolak buat menyanyikan lagu yg ccukup jingkrak2an tetapi lagi2 penyelenggara meminta untuk seperti itu....
    memang tidak salah para2 fans dari pengisi acara tersebut menonton dan terbawa suasana konser yang emang enak buat goyang mosing dan segala macem itu hal yang wajar ketika menonton konser apa lagi dengan band yang lagunya cukup membangkitkan gairah untuk joget dll....
    jadi sekali lagi tim kreatif seharusnya dapat mendengar masukan juga dari si artis tersebut yang emang udah tau kondisi lapangan kalo bawain dengan format begini jadinya gimana, kalo format begitu jadinya gimana...

    ReplyDelete
  7. Keren postnya, blogger purwokerto yah ?
    Mampir balik ya di ekosutris.blogspot.com

    ReplyDelete

thanks for comment :D